Entah kenapa, tiba-tiba terlintas di benak saya kalimat ini: iklan itu harus mempunyai bobot interupsi.
Dari kalimat tersebut, saya mencoba melihat ke belakang dengan melihat apa yang telah dilakukan TVC, print ad, radio spot. Semua mempunyai persamaan: interupsi yang mempunyai daya tarik. Semua pasti sudah tau bagaimana memberikan kualitas dari sesuatu yang interuptif tersebut: proporsi warna yang menarik, daya pikat sebuah kalimat, hingga mengambil issue hangat yang sedang terjadi di masyarakat. Semua sudah dilakukan dan berjalan dengan dinamikanya masing-masing hingga memasuki era digital.
Kembali ke sesuatu yang interuptif.
Interupsi. Kata ini yang kemudian mengganggu pikiran saya dan kemudian menimbulkan pertanyaan: Bagaimana jika semua ruang dan waktu kita merupakan bagian dari interupsi?
Seru untuk dibahas jika kemudian melihat pergerakan iklan saat ini yang sangat masif, memasuki setiap sisi kehidupan kita secara sadar maupun tidak sadar. Iklan sangat berpotensi atau bahkan sudah seluruhnya masuk ke setiap aktifitas kita. Dengan kata lain, secara ekstrim dapat dikatakan, detik demi detik ruang waktu kita sudah diinterupsi oleh iklan.
Kalau kondisinya seperti ini, kesimpulan mengenai “iklan harus mempunyai bobot interupsi” sudah menjadi tidak lagi berguna. Ya, lalu permasalahannya apa?
Permasalahannya adalah ketika segala sesuatu yang interuptif tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita dan kita sudah terbiasa dengan hal tersebut, maka tidak ada lagi yang spesial. Bahkan, mungkin, bobot interupsi di setiap bentuk komunikasi yang ingin disampaikan menjadi hilang. Sederhananya, saya sangat jarang makan mie instan rasa ceker Naga. Ketika saya makan mie rasa ceker Naga, terasa spesial. Namun, ketika saya makan mie itu nyaris setiap hari? Bosan.
Dari contoh kasus di atas, “kreatifitas” akan selalu memberikan jawaban untuk menghindari kebosanan tersebut dengan credo: out of the box. Namun tetap saja, jika kita kembali ke permasalahan utama, kadar interupsi tidak akan berkurang. Dengan kata lain, sekedar interupsi dengan gaya baru.
Tantangannya? Menciptakan sesuatu bentuk komunikasi yang tidak interuptif agar terlihat “spesial”? Damn, itu masih abstrak di kepala gw.
Segitu dulu.
Salam,
Wolfgang Xemandros
Jangan lupa follow twitter saya @cosmologeek.(ini salah satu bentuk interupsi, colongan promosi oi! Hahah)